kehilangan liga inggris

August 14th, 2007 by tiada-kepandaian

saya ingin bicara premiership dan tayangannya di televisi.

hiburan yang benar-benar menghibur dan dapat –memang semestinya demikian– dinikmati secara bersama-sama adalah menonton sepakbola, baik di layar televisi maupun secara langsung di stadion-stadion ataupun di lapangan sepakbola, bahkan juga termasuk di lapangan ala kadarnya semacam pelataran parkir, atau apapun yang bentuknya semacam lahan yang dapat digunakan untuk bermain sepakbola, baik dengan bola kulit maupun bola plastik.

khusus tentang menonton sepakbola di stadion, melihat kasus-kasus di Liga Indonesia, agaknya masih banyak di antara kita yang enggan datang ke stadion mengingat resiko dan kejadian yang tak diharapkan. jadi sepertinya memang masih lebih menggembirakan jika menikmati sepakbola cukup dengan melihat tayangan langsung maupun tunda di layar televisi. kualitas permainan dalam Liga Indonesia yang menunjukkan kemajuan, dalam beberapa hal, cukup menjadi alasan untuk ditonton. membandingkan Liga Indonesia dengan liga-liga Eropa tentu saja tidak pada tempatnya, apalagi dengan Liga Inggris, PREMIERSHIP.

setelah hak siar premiership di negeri ini dikuasai oleh astro, satu dari beberapa penyedia layanan televisi berbayar di indonesia itu, apa yang terjadi?

biasanya setiap jam tayang siaran langsung, bahkan sering juga yang tunda, premiership di televisi, dulu di stasiun televisi tv7 yang kemudian berganti nama trans7, saya siap sedia meskipun nonton sendiri dan tengah malam pula. liga inggris bagi saya adalah sesuatu yang, jika buka satu-satunya, tayangan televisi yang perlu ditonton. tidak bermaksud menghina liga-liga eropa lainnya, saya kira sesudah liga inggris hanya la liga primera spanyol yang menarik, baru kemudian bundesliga jerman. meskipun mengantuk dan lelah –bukankah orang juga perlu bekerja?– seru dan kerasnya permainan sepakbola liga inggris menjadi alasan yang tak dapat ditolak.

kemudian datang astro mengambil hak siar liga inggris. dan orang-orang merana. uang sejumlah dua ratus ribu rupiah –untuk berlangganan astro agar dapat menikmati espn dan starsport yang menayangkan premiership– benar-benar belum terjangkau oleh kemampuan saya. di sini astro telah menonjok dengan sangat telak kepada saya: "kamu orang bukanlah apa-apa dan kelasmu hanyalah kere yang tak punya duit! enyahlah!"

saya memang belum cukup berduit dan saya masih memimipikan untuk nonton liga inggris. saya kira ada sekian puluh juta orang indonesia yang seperti saya. tapi sebenarnya, berapa sih jumlah pelanggan astro? saya yakin sangat sedikit dibandingkan pecinta liga inggris di indonesia. lalu bagaimana dengan mimpi serta dahaga pecinta liga inggris menonton tayangan liga inggris seperti yang dulu-dulu alias kembali lewat stasiun-stasiun televisi non-bayar?

tentu saja saya tidak berkompeten untuk membuat hitung-hitungan matematis tentang bagaimana jika hak siar liga inggris ditanggung bersama oleh sebagian pecinta liga inggris. pastilah pengelola stasiun televisi dan kreator acara punya hitungan bagaimana sebuah program acara dibuat dan pendanannya serta bagaimana proses serta prospek keuntungan bisa didapat. tulisan ini hanya keluh seorang pecinta liga inggris, setelah terbukti liga inggris lebih mahal, yang artinya lebih bernilai ketimbang liga-liga dunia lainnya, yang tak lagi kesampaian nonton tayangan liga inggris di televisi.

tuan-tuan yang berlangganan astro, sudikah tuan berbagi cerita jalannya pertandingan liga inggris kepada saya?
saya masih bermimpi nonton liga inggris.
glory glory manchester united!

sandiwara radio

July 29th, 2007 by tiada-kepandaian

pernahkah tuan mendengarkan sandiwara radio? kapan?

tahun-tahun 1980-an radio-radio, baik milik pemerintah maupun radio swasta, ramai sekali dengan sandiwara radio. sandiwara radio yang paling terkenal adalah “saur sepuh” dengan brama kumbara dan mantili-nya. pilihan media komunikasi elektronik yang terbatas memang memungkinkan maraknya sandiwara radio. dari cerita anak-anak sampai untuk semua umur dan kalangan.

sandiwara radio memberi kesempatan bagi pendengarnya untuk menyimak, membayangkan dan penasaran dengan jalan cerita. di kampung-kampung orang sudah bersiap di depan radio jika sudah waktunya, tidak masalah jika harus ikut numpang dengar di radio tetangga. keasyikan yang komunal dan murah sekali.

sekarang mungkin menjadi aneh jika orang membelakangi televisi hanya sekedar untuk menunggu siaran sandiwara di radio. bahkan televisi pada waktu sekarang hampir-hampir tak menyisakan waktu untuk barang sejenak meninggalkannya. acara-acara yang bervariasi pada berpuluh stasiun televisi merayu dan berhasil memikat orang untuk teguh sentausa di depan pesawat televisi. bahkan sampai jam tengah malam (bukankah konon kabarnya para ibu di indonesia sangat doyan sinetron? beberapa stasiun televisi sepertinya mabuk kepayang dengan siaran mereka sendiri: sinetron sampai tengah malam!)

kembali ke sandiwara radio. dulu, saya membayangkan bagaimana seorang brama kumbara menunggang kuda melintas belukar hutan dan menumpang malam di rumah seorang penduduk kampung. suara cenggeret dan guguk anjing malam terasa sekali. juga saya mengira-ngira seperti apa sih cantiknya mantili? mungkin tinggi ramping dan berselendang pada pinggangnya yang menyandang pedang setan. kilatan pedang yang menyebar bau…hmmm..ketika harus berkelit dari kilatan kilau kerlap pedang perak si tajibarnas.

atau pada “misteri gunung merapi”. auman mardian si manusia harimau itu sungguh menakutkan. saya yang masih kanak waktu itu benar-benar merinding dan tak berani tak berkawan di rumah, bahkan di siang hari! kekeh tawa meringkiknya mak lampir dan lolongan srigala, juga suara gelegar cambuk saktinya sembara. benar-benar jaman dulu orang sakti berkeliaran di mana-mana. (sayangnya, misteri gunung merapi yang di-televisi-kan itu sangat jauh berbeda dengan sandiwara radionya)

mungkin tuan pernah dengar “mahabharata”? ah, ingatkah tuan dengan “wathathithah”-nya jatugora? kemasan apik tentang epos mahabharata yang sayangnya tidak bertahan lama dan tuntas sampai penghujung kisah, bharatayuda jaya binangun. setidaknya “wathathithah” cukup mengasyikan sebagai tambahan kosakata untuk mengungkapkan sesuatu.

juga “jaka badak” yang berkisah tentang masa kerajaan kediri dengan prabu jayabaya-nya. juga “srigala mataram” yang menuturkan bagaimana senopati-senopati mataram di bawah sultan agung hanyakrakesuma –terpujilah beliau di swargaloka–, terlibat dalam riuhnya dunia persilatan bersamaan dengan perjuangan mengusir belanda penjajah.

tidak ketinggalan adalah “tutur tinular” dengan arya kamandanu dan mei shin. kemelut runtuhnya imperium singasari dan awal bangkitnya trah rajasa mengibarkan majapahit.

lainnya adalah seperti pangeran joyokesumo dalam “lowo ijo” yang mengembara bersama dyah karangsari. juga yang tak kalah asyiknya adalah sandiwara radio “butir-butir pasir di laut” yang disiarkan oleh rri (di banyumas, di daerah lain mungkin stasiun radio swasta?) “butir-butir pasir di laut” adalah sandiwara radio yang berepisode pendek, seringkali langsung tamat, tapi keasyikannya nyaris sama dengan sandiwara radio yang serialnya panjang-panjang itu.

untuk menutup tulisan ini, tahukan tuan urutan serial dalam “saur sepuh”? ada “darah biru”, “perjalanan berdarah”, “sengketa tanah leluhur”, “banjir darah di bubat”, “istana atap langit”, “kembang gunung lawu”, ….wah, bahkan saya sendiri tidak hapal nama dan urutan serialnya.

barangkali tuan ingat? atau sekiranya sudi, kiranya tuan berkenan mengajari saya “thi-ki-i-beng” pemuncak “ajian serat jiwa” dan juga “ajian lampah-lumpuh”?

kepengin aring surabaya

July 29th, 2007 by tiada-kepandaian

inyong wis suwe ora dolan aring surabaya. sing keri inyong aring surabaya pas wulan januari 2007, dadi ya wis ana nem wulanan ora ngambah surabaya. jane wis kepengin pisan dolan nganah, ningen wektu sing lodhang ora nyukupu dadi ya mung neng pengangen-angen.

inyong tolih neng surabaya kawit tahun 1995, neng laladan ampel, perek karo masjid agung sunan ampel. adoh sekang desa inyong neng banyumas, inyong mayeng-mayeng neng surabaya gedug tahun 2006. ya ana sekolah ana ngodhe, ning sing akeh ya dolane. mulane dadi duwe batir akeh neng surabaya, lan malah ya akeh-akehe ya bocah sekang njaba kota, malah ana sing sekang sumantra gedung sing sekang papua lan timor leste. nyenegi pisan koh duwe batir akeh tur adoh-adoh. senajan inyong dhewek urung kelakon ngambah nyabrang segara, ningen duwe bala sekang ngendi ora ya pancen nyenengi.

batir-batir inyong kuwe mau akeh-akehe ya padha manggon terus neng surabaya. anaha sing padha lunga ya paling adoh aring jakarta. sing akeh ya tetep neng surabaya utawane sidoarjo, malang lan gresik. inyong dhewek malah kebuncang angine nasib gedug neng situbondo.

neng surabaya inyong lan batir-batir jan-jane tolih ora ana istimewane sing banget-banget. saben dina mung padha ngopi neng warung, cangkruk gedug wengi nganti bakule mbesengut. angger sore bal-balan nganggo bal plastik neng pavingane kantor. wengine dolanan kertu nganti esuk. awane turu sedhela, laten seang-sewangan ngurusi uripe dhewek-dhewek, sorene bal-balan maning.

sewelas tahun neng surabaya pancen dudu wektu sing sedhela. senajan inyong dhewek ora kepengin dadi wong surabaya, ningen sewayah-wayah ya ana baen rasa kangen karo surabaya lan batir-batir.

ya mbok menawa ngesuk ngemben kapan inyong teyeng dolan aring surabaya.

pilihan lurah neng desa inyong

July 29th, 2007 by tiada-kepandaian

sepisan kiye inyong kepengin ndopok babagan pilihan lurah, sing cara mlayune ya cara resmine kuew pilihan kepala desa utawane pilkades. jan-jane tolih mergane inyong ora teyeng bali aring desa inyong milu pilihan lurah. mbangkanen inyong jen kepengin pisan milu nubyung rame-rame milih lurah. jan..eram..

sing arane pilihan lurah, neng desa ngendi baen, mesthi rame tur ya mbetahi nggo degawa kandhah neng pertelon utawane neng warung-warung, neng sawah, neng pasar, neng ngendi papan. acara pilihan lurah tolih acara coblosan nggo milih sapa tokoh utawane penggedhe sing miturut pewangwange wong ndesa pantes lan patut dadi lurah, dadi bapane wong sedesa. ora paja-paja, lurah tumrape wong desa pancen megin kajen lan derungokena pitutur sekecap rong kecape.

cara-carane tolih neng desa inyong ngkana wingi tes padha nganakena pilihan lurah. jere jagone ana nenem, termasuk mantan lurah sing nembeke tutug masa tugase. neng desane inyong tolih ana 7 (pitu) rw, lah sing rw 1 kuwe misah ora kembul karo rw-rw liyane, neng padon kidul, keletan sawah bengkok ngablak-ablak. lah sekang rw 1 kuwe ana 4 (papat) jago sing maju kepengin dadi lurah, kelebu mantan lurah. sekang lor, yakuwe sekang rw 2 gedug 7 sing maju 2 (loro).

gelise kandhah, neng dina coblosan sing menang dadi lurah kuwe jago sekang lor, genahe sekang rw 4. nggulih menang ora maen-maen, telak tur ora nyumelangi. cara mlayune jere “menang mutlak”. jajal kepriwen agep ora mutlak, wong sing menang olih bithing nganti 2.642 iji, saingane sing paling kuat yakuwe mantan lurah mung keduman bithing 875 iji. patang jago liyane malah ora gedug 500 bithing acan. bithing kuwe carane wong ndesa ngarani cacah swara coblosan.

jan-jane dadine angkane sing menang karo sing nomer loro, apamaning karo sing liyane, kaceke adoh banget, meh 2000 dewek, kuwe bisa demaklumi lah. kawit kira-kira tahun 1984-an desa inyong kuwe lurahe lurah sekang lor lan nggulih nyekel panguwasaning praja desa malah kena denarani mumpuni lan maju desane, nganti tekan milu lomba desa baen ya teyeng menang neng tingkat propinsi. bale desa bisa deboyong aring ngalor (ajajal bayangaken, wong nenem rw adoh neng mbang lor koh bale desane neng mbang kidul, tolih wagu jegu). lurah sing kiye nggulih mimpin malah gedug kira-kira tahun 1999-an.

tahun 1999 lurah kuwe mau ora kersa maju lan ora kersa diajukena maning dening para warga, sebabe milih mantepena kersane mapan dadi calon anggota dewan perwakilan daerah sekang sawijining partai politik. akhire sing menang neng pilihan lurah tahun 1999 kuwe tokoh sekang kidul, sekang rw 1. nggulih menang, angger ora kelalen, mung kacek 170-an bithing ketimbang jago sing nomer loro. dadi carane pas tahun kuwe ya akeh sing madan kuciwa koh lurahe sekang kidul. lurah kidul sing menang tahun 1999 kuwe lulus langgeng dadi lurah gedug tahun 2007, genep wolung tahun.

kanggone inyong dhewek, senajan wis madan suwe inyong ora bali aring desa inyong, kaya-kayane koh kemajuan neng desa inyong ora kena kaaran maju-maju pisan. tetep ana hasile panjenengane mantan lurah mimpin desa, ningen ora pati gawe mantepe wong akeh. lah mbareng pilihan lurah tahun 2007 kiye, akhire panjenengane mantan lurah kuwe detinggal deng pendukunge gemiyen tahun 1999. pas tahun 1999 olih bithing kira-kira 1700-an, wingi mung olih 875, separo dhewek sing ucul. angka kuwe kena kanggo pawadan kaya ngapa pinemune wong ndesa “menilai” lumaksanane pamrentahan desa tahun 1999 gedug 2007.

mbangkanen ana crite sadurunge pilihan lurah neng desa inyong wingi kae delangsungaken. merga presaratane wong agep maju dadi jago lurah kuwe jere seora-orane kudu duwe ijasah smp, salah siji calon sing agep maju dadi jago ora teyeng kasembadan, mergane mung lulusan sd, malahan sr kayane ndeyan. akhire sing deajokena malah anake, sewise njaluk lan takon pinemune para warga lan pendukunge kabeh. mbareng degebyagaken neng dinane, malah jebul menange cetha wela-wela, angel angger agep dinggo sulaya.

inyong sing mung olih sms sekang sedulur sing neng desa jan bungeh ora etung. ya muga-muga sing dadi lurah olih kekuatan lan pitulung sekang pangeran supayane nggulih nyekel pamrentahan desane inyong kalis ing sambikala lan pinaringan gampang lan degampangaken kabeh urusane. rahayu, rahayu, rahayu, desa inyong lan kabeh sing dadi wargane nemua raharja.

parodi itu

April 6th, 2007 by tiada-kepandaian

sejak kapan orang mengenal parodi?

pengalaman lucu dan menggelikan dapat terjadi kapan saja dan dialami siapa saja. objek kelucuan biasanya adalah pihak lain, karena mengakui kekonyolan diri sendiri adalah kegilaan yang sulit diterima, setidaknya jika orang lain tahu akan hal itu.

sesuatu yang lucu memang biasa ditertawakan. bahwa itu berarti menertawakan orang lain, itu lain perkara. lihat pelawak-pelawak kita: agar lucu, katakan saja bapakmu itu sejak kapan ada di Ragunan?

tentu saja lucu ada ragamnya. dus, tertawa mestilah terukur untuk apa. sampai kemudian kita dihadapkan pada yang namanya parodi. mengolah sesuatu peristiwa, figur, karakter, gaya, kata dan bahasa, bahkan suara/bunyi, dari yang sebenarnya dan telah memiliki nilai dan peran tersendiri menjadi sesuatu yang baru, yang lain, dengan sedikit atau banyak perubahan sana-sini, menjadi dapat dan enak untuk ditertawakan. ditertawakan. sekali lagi: ditertawakan!

meskipun belum ada larangan resmi, baik oleh agama, negara, maupun adat istiadat, menertawakan sesuatu sebagai sebuah rutintas tentu haruslah kita gagas sebagai sesuatu pernik kebudayaan, meskipun hanya sebatas pop culture. kita yang tak lagi mampu menggenggam erat warisan kebudayaan para tetua dulu, semestinya juga menyempatkan dri untuk tidak terlalu asik dengan menertawakan orang lain, subjek lain. bahwa sering dikatakan humor adalah bentuk lain darii sebuah kritik, toh kita tahu: sesuatu yang rutin dan terus menerus adalah membosankan dan membuat fungsi yang semestinya menjadi lenyap. ia hanya sebatas ada. kritik menjadi biasa…tak ada yang perlu dicemaskan.

parodi sesungguhnya hanya sekali lewat, ia tak pernah kembali. jika ia kembali itu artinya ia telah menjadi genit dan pantas untuk menjadi bagan dari pasar malam atau sirkus keliling. bukankan tujuannya adalah menghibur dan tak lebih dari itu?
jangan katakan tujuan parodi adalah menggugah sisi kritis pemikiran manusia, terlebih orang-orang yang juga di lain malam kembali dihadapkan pada sinetron.
parodi, pada saat yang demikian menjadi kerikil besar bagi perjuangan kaum pinggiran. ketika teriakan dilantangkan, toh bersamaan dengan itu juga disodorkan cara bagaimana agar kesedihan dinikmati dengan tertawa. semacam penipuan yang entah mengapa memang enak untuk ditertawakan.

tulisan ini sesungguhnya menghendaki lebih panjang. tapi ada sesuatu yang lucu. saya berhenti dulu. saya juga tidak menjamin kalau ada sambungan tulisan ini, saya sudah cukup miskin, tidak mampu memberi jaminan.

sehabis nonton kethoprak

April 1st, 2007 by tiada-kepandaian

sesekali dalam hidup, orang mendapatkan kesempatan untuk mengalami penderitaan dan kejayaan. sejarah dan juga dongeng-dongeng yang dibuka dengan "…pada jaman dahulu kala", memberikan sangat banyak pemahaman akan mewujudnya kedua pengalaman itu. adam yang jatuh dari surga, troya yang hancur, bharatayudha jayabinangun. semuanya berawal dari pilihan. pilihan yang sudah diketahui resiko dari apa yang dipilih. tak ada yang kebetulan di sana. pertanyaannya: apakah di dunia kita ini (dalam beberapa perspektif, sangat tidak mudah untuk mengatakannnya sebagai: "dunia saat ini") pilihan-pilihan yang ada memanag sudah disadarai benar apa resiko-resikonya? dan siapa sesungguhnya yang semestinya menyandang kepantasan untuk memilih?

dulu, ketika manusia belum terbantu oleh banyak hal, kata tampil sebagai panglima kehidupan. kedudukan kata mendapat kehormatan sebagai pemandu kehidupan. masyarakat jawa kuno mewariskan khasanah kata yang bertingkat-tingkat, berbeda-beda. tingkat dan perbedaan itu, selain memang, dan jelaslah demikian, memperkaya perbendaharaan kosakata, juga menentukan kedudukan seseorang ada apa yang semestinya ada atau dipenuhi oleh orang-orang tertentu itu. dalam bahasa jawa ada jejer, wasesa, lesan. ketika seseorang menjadi jejer, subjek, ia nyaris sepenuhnya bertanggung jawab atas apa yang dihadapi dan disanggupinya dalam hidup, termasuk ketika kata-kata "saat itu" dilibatkan.
***

menikmati pementasan kethoprak yang aktor-aktrisnya adalah orang-orang berpangkat, kantoran, adalah menarik. tidak tahu sedang dalam rangka apa, TVRI malam itu menampilkan pagelaran kethoprak yang mengisahkan kisah perpindahan kekuasaan dari Demak ke Pajang. menarik sekali.

malam itu yang tampil dipanggung adalah sebuah ketidakmampuan komunikasi dari suatu subjek yang (mungkin) ingin menyampaikan sesuatu pesan (bukankah pemilihan cerita dan dialog adalah sebuah kesengajaan?) tetapi tidak dan kurang menempatkan kebudayaan sebagai sesuatu yang lebih besar ketimbang isi cerita. dalam budaya jawa, raja adalah raja, bagaimanapun dan seperti apapun kelakuan dan sifatnya. atau seorang sunan kudus adalah sunan kudus, dalam situasi apapun ia tetap adalah salah satu dari sekian banyak tokoh-guru utama pulau jawa. atau ratu kalinyamat. ia yang wanita, toh tetap harus ditempatkan juga sebagai pewaris tahta Demak.

bagaimanapun juga, setidaknya saya mendapatkan kenikmatan malam itu. setelah sekian lama tidak menonton TVRI (ah.. ternyata memang kue itu tidaklah terbagi rata untuk semua rakyat Indonesia!),  begitu nonton TVRI malah nonton kethoprak. apalagi pelakunya adalah  orang-orang terkenal,  Kenthus yang sering di wayang orang itu, Kirun, Yati Pesek, juga Eko yang tidak lucu. orang-orang dari BUMN minyak itu memang tak harus sibuk mengerutkan kening untuk masalah kebudayaan. tapi kalau mereka memang berminat dengan kesenian dan kebudayaan, tentulah itu cukup untuk membantu manusia indonesia tersenyum sebelum tidur.

kelilan…

wahyu cakraningrat

January 16th, 2007 by tiada-kepandaian

mendapati hidup yang tak lagi nyaman dan terasa dekat dengan rasa cemas akan datangnya keadaan yang mengerikan dan menyedihkan adalah pengalaman yang tak menggembirakan. di negeri ini, daratan lautan angkasa adalah tentang ketakpastian manusia mengelola apa yang menjadi pengetahuannya. kecelakaan dalam hal transportasi dan bencana alam makin tidak mengejutkan dan nyaris setiap hari dikabarkan dari berbagai tempat. tentu saja: mengapa dan siapa manusia yang semestinya ditanyai dan memberikan kejelasan?

manusia yang telah memilih akal sebagai pedomannya tentu saja tidaklah pantas untuk menisbahkan segala apa yang terjadi sebagai kehendak tuhan, apalagi berlindung di balik kata-kata "..pasrah dan iklas menerima segala ketentuan tuhan". bukankah manusia makin lebih menyukai pengetahuan ilmiah ketimbang apa-apa yang diwahyukan? atau itu karena kepala adalah organ paling atas pada jasad manusia?

hidup yang makin dikuasai oleh citra, suara, gerak dan angka-angka, makin hari makin tak bisa menerima sepi dan keheningan diam. bahkan cakra manggilingan itu seakan memang hanya kata-kata kuno yang tak lagi memberi inspirasi. juga wahyu cakraningrat.

kapan dan siapa yang sanggup tapabrata nuhoni laku utama agar mampu anggayuh sekaligus kadunungan wahyu cakraningrat?

o..bapa adam kula nyuwun pangapunten..

purwokerto

January 15th, 2007 by tiada-kepandaian

purwokerto telah berubah. sungguh.

dari arah barat, memasuki kota purwokerto dimulai dari karanglewas. toko-toko telah bertambah rapat, pasar yang ramai makin riuh oleh penjual kaki lima yang langsung menyapa orang-orang yang lewat atau penumpang yang baru turun dari bis dan angkutan kota. jalan-jalan penuh dengan deru suara kendaraan yang berjalan lambat, hingga penumpangnya bisa menikmati suguhan pertunjukan-pertunjukan iklan dan promosi. musik gratis dari speaker-speaker penjual vcd, orasi bersemangat tukang obat, juga sesekali ringkik kuda-kuda dokar yang berjajar-rukun dengan angkutan pedesaan.

mendekati pasar pon kendaraan makin pelan, rupanya lebar jalan di pintu perlintasan kereta api itu memang terlalu sempit untuk menampung kegembiraan orang-orang yang ingin menikmati purwokerto, sebentar lagi. setelah sepeda motor makin murah dan mudah didapat/dibeli/dikredit, yang sebelumnya sering ganti-ganti sepeda motor jadi beli mobil, yang sebelumnya mobilnya bekas ganti mobil baru atau setidaknya yang kapsul. sepertinya memang sedikit membedakan diri dari orang lain itu perlu. seperti juga purwokerto yang telah berbeda dengan ketika inyong pergi dulu.

terus lurus ke arah timur, pusat kota.

alun-alun masih rindang, terima kasih untuk pohon-pohon beringin itu. barangkali di waktu malam kerlap dn pijar lampu kota makin menghangatkan suasana di alun-alun. anak-anak yang bercanda, orang-orang yang makan siomay, dan di sudut barat daya itu: bakul mendowan!

siang hari purwokerto memang panas. menyengat. tapi orang-orang tetap datang. parkiran moro kelihatan penuh. ramai sekali.

pasar wage yang baru. ada yang bilang tidak seramai dulu ketika belum dibangun. tapi sepanjang jalan jendral sudirman itu benar-benar sesak. jalan yang searah ke barat itu di kanan kirinya berderet mobil parkir, tukang becak masih mencoba mengambil celah untuk melaju, sepeda motor meliuk, mobil box dan mpv keluar masuk. harus hati-hati di situ.

kebon dalem. paving di sebelah masjid itu makin sempit. rita pastilah sudah mapan sekali di purwokerto.

ke arah unsoed. siapakah mereka itu, yang merayakan kegembiraan ketika kawasan unsoed makin berkembang menjadi pusat bisnis? semoga purwokerto tetap berbahagia.

terminal baru..ah..kapan-kapan inyong juga ingin lihat dan merasakan riuhnya udara terminal baru itu.

purwokerto..wow..

sampai jumpa lagi, purwokerto..

bali

January 15th, 2007 by tiada-kepandaian

tumrape wong sing tau lunga adoh sekang desane –mbuh maring desa liya mbuh maring kota, apamaning jere malah nganti nyebrang segara maring luwar pulo (jawa) utawane luwar negara– tembung "bali"  kena dearani tembung sing marakaken pirang-pirang pengrasa. jere kang bawor, kae angger ki gino agi ndalang, tembung "bali" kuwe tegese marani papan sing kanggo mangkat lunga. dadi njujug maring papan sing wis detinggal lunga, mbuh mung sedhela apamaning suwe nganti taun-taunan. plekara mengko papan kuwe ditinggal lunga maning tah ya mesthi dadi lan ana critane dhewek.

wong sing lunga ninggalaken desane, upamane, mesthi baen ora ngalami owah-owahan sing ana neng desane selawase detinggal lunga. teyenge mung ngerti ana owah-owahan angger ana kabar sing teka, mbuh sekang koran, tivi, radio, telpun, sms, utawane sekang critane kanca batir sing nembe baen bali ndesa banjuran lunga maning. sepira akehe kabar sing teka tetep ora padha karo angger ngalami dhewek apa lan kepriwe anane owah-owahan neng ndesane. cara mlayune jere "…mengalami tidak sama dengan mendengar atau tahu tentang sesuatu…"

ninggalaken desa padha baen karo ninggalaken jagading sesrawungan sing dadi warisan awit lahir bayi abang mula tekan ngancik alam kadiwasan, apamaning tekan mapag dina yuswa. senajan sakedheping netra lir upamane, ninggalaken kabeh sing padha asih tresna lan krikil lebuh lemah ireng banyu belet jangkrik ngerik, ijone godhong lan suket garing, mesthi baen nuwuhake rasa kangen kapang kepengin bali ketemu karo sedulur, tangga lan kanca batir.  wis dadi gawan lahir, menungsa jere nduweni rasa sing mbuh kepriwe koh dadi kepengin ketemu lan kumpul karo wong-wong sing tresna lan ditresnani, uga karo banyu sing cokan dienggo nginum awit esih bocah. senajan betah neng ngendi paran, ningen mbuh kapana tetep ana krenteg kepengin "bali".

wong-wong sing padha kepengin "bali" ora kabeh nemu dalan gampang kanggo nglakoni kepenginane. ana sing kepalang gisus nggulih ngode buara neng paran, ana sing ora utawane urung duwe sangu nggo ongkos "bali", ana sing senajan teyeng prei neng kodeane lan duwe sangu ningen ora utawane urung teyeng "bali" –mbok menawa ora wani, ora gelem ketemu karo mbuh sapa pawongan sing ana utawane nduweni ganjelan rasa pangrasa ora ngepenakena ati karo dheweke. tumrape wong sing kangen kapang ningen ora nemu dalan gampang kanggo "bali" mbok menawa rasa kangen kapange sengsaya tambah kandel nganti netesaken luh lan panggrantes ing tyas batine.

wong-wong sing padha "bali" ora teges kabeh pada nemu dalan gampang. awit sekang banget kangen kapange, ora ketang direwangi utang paribasane, wong-wong kuwe tetep teyeng "bali". ana sing "bali" laten ora lunga maning, ana sing "bali" laten lunga maning, malah tambah adoh lungane, malah laten ora tau "bali" maning.

sing bosen ora betah urip neng paran laten padha miwiti latiyan urip neng desane, seanane, seteyeng-teyenge, secukupe. sing esih betah lan krasa kepenak urip neng paran, laten lunga maning ninggalaken desane, mbesuk angger kangen kapang ya gari "bali" maning, angger mbesuk teyeng soten. sing wis ora duwe pengarep-arep urip neng desane dhewek, laten nggeblas lunga adoh sisan gawe, senajan ndeyan ya tetep ana krentege kepengin "bali".

wong-wong sing padha "bali" ana sing ora mung merga kangen kapang melulu. kayane ana baen wong sing nggulih "bali" uga kesurung kepengin ngatonaken sepira kasile lan begyane awak nggulih sangkar-sungkur nggolet penguripan neng paran. sing kaya kiye tolih cokan marakaken kiwetengene dadi kepengin tiru-melu lunga buara ninggalaken desa pamrihe mbesuk teyeng "bali" wis beda lan dadi wong sing bebasan sugih dunya mbanduara. koh mbesuk jebule ora kesembadan ya gari "bali" dadi wong ndesa maning.

cembenengan kepengin "bali" apa ora?

berhenti

October 21st, 2006 by tiada-kepandaian

bagaimana perasaan anda, tuan, ketika berhenti bekerja dan keluar dari tempat yang telah lama menjadi ladang penghasilan?

hari ini seseorang mengundurkan diri, berhenti dan keluar kerja. meski kisahnya jauh berbeda dengan kehilangan kerja macam PHK dan semacamnya, tetapi berhenti kerja artinya menjadi tidak bekerja, sama saja. meski mengundurkan diri berarti inisiatif tidak datang dari pihak yang mempekerjakan, tapi kehidupan tak butuh kata "mengapa demikian".

bagaimana perasaan anda, tuan, ketika berhenti bekerja dan keluar dari tempat yang telah lama menjadi ladang penghasilan?

harap dimaapkan, saya tak bertanya pada anda, tuan, yang belum pernah bekerja.