kehilangan liga inggris
August 14th, 2007 by tiada-kepandaiansaya ingin bicara premiership dan tayangannya di televisi.
hiburan yang benar-benar menghibur dan dapat –memang semestinya demikian– dinikmati secara bersama-sama adalah menonton sepakbola, baik di layar televisi maupun secara langsung di stadion-stadion ataupun di lapangan sepakbola, bahkan juga termasuk di lapangan ala kadarnya semacam pelataran parkir, atau apapun yang bentuknya semacam lahan yang dapat digunakan untuk bermain sepakbola, baik dengan bola kulit maupun bola plastik.
khusus tentang menonton sepakbola di stadion, melihat kasus-kasus di Liga Indonesia, agaknya masih banyak di antara kita yang enggan datang ke stadion mengingat resiko dan kejadian yang tak diharapkan. jadi sepertinya memang masih lebih menggembirakan jika menikmati sepakbola cukup dengan melihat tayangan langsung maupun tunda di layar televisi. kualitas permainan dalam Liga Indonesia yang menunjukkan kemajuan, dalam beberapa hal, cukup menjadi alasan untuk ditonton. membandingkan Liga Indonesia dengan liga-liga Eropa tentu saja tidak pada tempatnya, apalagi dengan Liga Inggris, PREMIERSHIP.
setelah hak siar premiership di negeri ini dikuasai oleh astro, satu dari beberapa penyedia layanan televisi berbayar di indonesia itu, apa yang terjadi?
biasanya setiap jam tayang siaran langsung, bahkan sering juga yang tunda, premiership di televisi, dulu di stasiun televisi tv7 yang kemudian berganti nama trans7, saya siap sedia meskipun nonton sendiri dan tengah malam pula. liga inggris bagi saya adalah sesuatu yang, jika buka satu-satunya, tayangan televisi yang perlu ditonton. tidak bermaksud menghina liga-liga eropa lainnya, saya kira sesudah liga inggris hanya la liga primera spanyol yang menarik, baru kemudian bundesliga jerman. meskipun mengantuk dan lelah –bukankah orang juga perlu bekerja?– seru dan kerasnya permainan sepakbola liga inggris menjadi alasan yang tak dapat ditolak.
kemudian datang astro mengambil hak siar liga inggris. dan orang-orang merana. uang sejumlah dua ratus ribu rupiah –untuk berlangganan astro agar dapat menikmati espn dan starsport yang menayangkan premiership– benar-benar belum terjangkau oleh kemampuan saya. di sini astro telah menonjok dengan sangat telak kepada saya: "kamu orang bukanlah apa-apa dan kelasmu hanyalah kere yang tak punya duit! enyahlah!"
saya memang belum cukup berduit dan saya masih memimipikan untuk nonton liga inggris. saya kira ada sekian puluh juta orang indonesia yang seperti saya. tapi sebenarnya, berapa sih jumlah pelanggan astro? saya yakin sangat sedikit dibandingkan pecinta liga inggris di indonesia. lalu bagaimana dengan mimpi serta dahaga pecinta liga inggris menonton tayangan liga inggris seperti yang dulu-dulu alias kembali lewat stasiun-stasiun televisi non-bayar?
tentu saja saya tidak berkompeten untuk membuat hitung-hitungan matematis tentang bagaimana jika hak siar liga inggris ditanggung bersama oleh sebagian pecinta liga inggris. pastilah pengelola stasiun televisi dan kreator acara punya hitungan bagaimana sebuah program acara dibuat dan pendanannya serta bagaimana proses serta prospek keuntungan bisa didapat. tulisan ini hanya keluh seorang pecinta liga inggris, setelah terbukti liga inggris lebih mahal, yang artinya lebih bernilai ketimbang liga-liga dunia lainnya, yang tak lagi kesampaian nonton tayangan liga inggris di televisi.
tuan-tuan yang berlangganan astro, sudikah tuan berbagi cerita jalannya pertandingan liga inggris kepada saya?
saya masih bermimpi nonton liga inggris.
glory glory manchester united!